Minggu, 08 Desember 2013

Thats my Family in my High School in Kertosono



Dari Kiri Atas:
-Oktofa -Herlambang -Deasy -Rima -Muvidha -Andinta -Izatin -Rara -Ziana -Ovi -Alvita -Sisiti -Galang -Lutfi
Tengah:
-Bayu -Hanim -Anggita -Okta -Lia -(Bu Ismunanik) -Sitnur -Tiar -Nawang -Karina -Arif
Bawah:
-Riza -Hendy -Tegar -Iqbal -Robin -Mahathir -Rohmad -(Saya)
Absen/Gak ikut Foto:
-Guruh -Guntur -Tika -Hendrik

I LOVE YOU ALL, MY BEST FAMILY. :*

Sabtu, 30 November 2013

Cerpen Sahabat



TAKKAN PERNAH ADA UNGKAPAN “MANTAN SAHABAT”


Namaku Ahmad Ammar Muzakky, atau biasa dipanggil Jeck oleh temen-temenku. Ini adalah cerita tentang sahabat-sahabatku yang aku temukan semenjak masuk SMA Kertosono. Kisah persahabatanku dimulai semenjak aku masuk di kelas X. Tepatnya kelas X-7, jujur saat aku pertama masuk di kelas itu aku nggak punya teman. Tapi aku masih ingat, waktu itu ada seorang anak yang berasal dari Madrasah Tsanawiyah yang juga tergabung bersamaku di kelas ini.
“Ahmad Ammar, kan?” sambil tersenyum dia menjabat tanganku.
“Iya,..!” Sambil tersenyum dengan banyak pertanyaan di otakku aku membalas jabat tangannya.
Itulah sahabatku yang pertama, namanya Abdul Aziz, atau biasa ku panggil “Dul”. Hari-hari aku melalui dikelas X bersama Dul, meski kami selalu bersama tapi pertemanan kami belum menjurus ke Persahabatan.
Sampai suatu hari aku pulang sekolah. Seperti biasa aku pulang naik angkot, aku selalu menunggu angkot di warung sebelah timur sekolah. Dan suatu ketika ada anak yang juga naik angkot. Aku sempat melihat-lihat, aku perhatikan Seragam yang dia kenakan kok mirip seragam yang Dul pakai saat pertama bertemu.
“Hey,..” itu perkataan pertamanya padaku yang masih ku ingat. Dia memulai pembicaraan.
“Iya,.” Jawabku menanggapi sapaannya.
“Kamu kelas X apa?” tanyanya padaku.
“X-7, kalau kamu?”
“Aku X-4. Loh, kamu sekelas sama Abdul Aziz ya,.?
“Eh iya, dia temen sebangku ku!”
Percakapan kami pun masih berlangsung meski kami belum saling kenal. Sepanjang perjalanan  kami membicarakan tentang si Dul, dia bercerita kalau Dul dulu seorang Playboy di masa SMP nya. Sampai aku sudah sampai dirumahku.
“eh iya, nama kamu siapa?” tanya ku padanya.
“Firman, kalau kamu?” Jawabnya sambil menjabat tanagnku.
“Namaku Ahmad Ammar Muzakky, eh Fir aku turun dulu ya, sampai jumpa besok.” Aku turun dari angkot dan kami pun berpisah.
Sampai suatu hari kami bertiga dipertemukan dalam sebuah ekstra Kerohanian Islam. Hari ini hari Jum’at, aku sholat jum’at berjamaah disekolah. Setelah bel pulang sekolah berbunyi pukul 11:15,  Dul mengajakku untuk langsung pergi ke Mushola.
“Jeck, ayok ke Mushola” Ajak Dul.
“Ayok, sebentar tak beresin buku dulu”
Sementara kami berjalan menuju ke Mushola, seorang anak dari belakang mengikuti kita. Setelah kami menoleh ternyata Firman yang sedari tadi mengikuti kami dari belakang. Kami pun semakin berbaur.
“Jhon,.!” Panggil firman dari belakang.
Aku pun bingung, diantara kami berdua tidak ada yang bernama jhon, tetapi Dul menoleh dengan tenangnya.
“eh, The Man,.” Balas Dul. Aku semakin bingung dengan nama-nama ini.
“loh kamu Ammar kan? Yang bertemu di angkot” sapa Firman.
“eh iya, Man” aku ikut-ikut Dul memanggil dengan panggilan akrabnya.
“Kalian mau kemana? Tanya Firman.
“ke Mushola Man, udah Adzan nih” jawab Dul.
“Ayok buruan,.!”
Kami bertiga pun segera bergegas ke Mushola dan menjalankan Sholat Jum’at. Setelah selesai sholat jum’at kami bertiga kumpul di mushola untuk ekstra SKI. Seperti biasa ada kajian.
Hari-hari pun kami lalui bersama, sholat dzuhur, ke kantin, nongkrong di tempat parkir, ngobrol di warung kopi. Dan suatu hari kami berkumpul di bawah pohon di dekat pos satpam, kami mulai bicara dari hati ke hati. Dan kami mulai membentuk persahabatan kami. Ada Abdul atau Dul, dia paling pintar ngomongin soal Wanita. Maklum dulu seorang idola di SMP nya. Ada Firman atau Man, yang pintar ngomongi soal Agama dan Pengalaman Hidup. Dan Aku, aku tak tahu pintar ngomongin apa, tapi aku selalu bisa membantu mereka kalau mereka ada masalah, sedikit banyak aku selalu memberi saran kepada mereka.
Inilah persahabatan kami, kami punya kelebihan dan kekurangan, dan jika kami selalu bersama akan menjadi Persahabatan yang paling kompak. Dul dan Man, mereka dulu teman sekelas waktu di SMP. Man dan Aku, adalah teman pulang sekolah saat naik angkot. Dul dan Aku, adalah teman sekelas. Lengkap sekali rasanya persahabatan kami.
“Aku ingin persahabatan ini berlangsung samapi kita mati,.!” Man mengawali pembicaraan.
“Iya Man, sampai tua sampai kakek-kakek,.!” Dul sedikit menambah pembicaraan Man.
Tinggal aku sendiri yang masih terdiam, mendengar kata-kata mereka Otak ku langsung berfikir.
“Begini aja Bro, kita bikin perjanjian, kita bikin persahabatan. Yang akan mengikat hubungan Pertemanan kita. Tidak ada kata Mantan Sahabat diantara kita suatu saat nanti. “
“Oke, kita beri nama apa persahabatan kita ini,.?” Tanya Dul.
“Karena kita hobi jalan-jalan ke tempat yang belum pernah kita datangi, aku beri nama PERJALANAN TIGA BATU NISAN. Jadi intinya kita akan selalu bersama, melakukan perjalan hidup dengan bersama, sampai menjadi batu nisan.” Sahut Man.
“Begini, Persahabatan ini tidak bisa bisa ditambah anggotanya atau dikurangi. Kita adalah satu kesatuan yang sulit untuk dipisahkan satu sama lain.” Tambah Dul.
“Oke deal, Bismillah ya Allah,.” Aku menaggapi sembari berdoa untuk persahabatan ini.
Waktu terus berjalan, kami selalu bersama kemanapun kami ingin berjalan. Makna dari nama persahabatan kami tidak menutup kemungkinan untuk anak lain yang ingin berteman bersama kami. Kami sangat Fleksibel menerima sebuah pertemanan.
Hingga kami naik kelas XI, kami mengurangi waktu untuk jalan-jalan atau sekedar nongkrong di warung kopi. Kami akan serius untuk kelas XI ini, karena kami sudah masuk penjurusan. Man masuk di kelas XI-IPS 1, Dul XI-IPS 3, sedangkan aku di kelas XI-IPS 4. Kami hanya berkumpul jika ada acara ekstra atau biasanya setelah selesai sholat jum’at seperti biasa kami selalu ngobrol di warung kopi.
Cuma hanya sekedar curhat tentang wanita, tentang pelajaran, sampai tentang Agama. Kami selalu memberi pendapat masing-masing dan selalu menarik kesimpulan dari pembicaraan kita. Jadi nongkrongnya kami di warung kopi bukan hanya sekedar makan dan minum, kami juga berdiskusi membahas persoalan yang sedang terjadi.
Suatu hari.
“Man kemana ya kok nggak tau ketemu,.?” Tanya Dul.
“Nggak tau tuh, katanya ikut Kompetisi Dance antar sekolah,.!” Jawabku seadanya.
“Yaah, sepi rasanya tinggal berdua,.” Balas Dul
Suatu waktu.
            “Kemana ya Man dan Dul,..?” aku bertanya pada diriku sendiri.
O iya, mereka pada sibuk sama kegiatannya masing-masing, begitu juga aku. Hingga sampai diujung kelas XII ini persahabatan kami masih tetap berjalan meski kita jarang bertemu. Tetapi aku yakin didalam hati mereka masih ada ‘Batu Nisan’ yang aku dan mereka buat dulu.

Cerpen Karangan: Ahmad Ammar muzakky
            Cerita tersebut tidak aku titik beratkan pada sahabat ku yang aku tulis saja didalam cerita. Cerita ini aku titik beratkan pada sahabat-sahabatku semua. Sahabat adalah keluarga yang aku pilih sendiri, tidak ada hubungan kerabat diantara kita. Tetapi Kepecayaan dan komunikasi yang menjiwai persahabatan itu sendiri. Salam untuk sahabat-sahabatku semua.” @AhAmMu.

                                                                                      

Cerpen Kisah Jojo


PESAN INI BUKAN DARIKU
 https://blogger.googleusercontent.com/img/b/R29vZ2xl/AVvXsEhloWYekkemoYap7nuIl7W_mqiwriFzTN9VnF9b7cp785Z74V4uKWOFXm5Z-CJhgFQtc6KsB6gXtmmi3XUqKD4-s6eCmtR8uuAg5zEB3GgW9uS2CQovzJB3sc2xnDmNWXkqdPUl1CwTCDw/s1600/suratcinta.jpg


“Assalamualaikim,..”,
diketiknya dalam ponsel genggamnya. Yang dikirimkan kepada seseorang. Yaitu Any, teman sekelasnya. Maksud pertama dari pesan itu ia ingin menanyakan sebuah tugas kelompok Bahasa Indonesia. Kebetulan mereka satu kelompok. Tetapi maksud sebenarnya ia ingin mencari perhatiannya Any.
“Walaikumsalam.. ini siapa?” balas Any. Jojo sangat senang, pesannya kepada Any dibalas. Lalu Jojo membalasnya
“Aq Jojo,. Oy Any, aq mw tnya ttg tgs b.ind tdi siang,..? ”, dan dibalas oleh Any.
Dan sejak saat itulah kisah Jojo dimulai. Kini hari-hari Jojo semakin berwarna sejak ia mengenal Any dan bisa komunikasi langsung melalui telepon genggam. Any yang anaknya Pintar, Cantik dan Baik membuat Jojo tertarik padanya. Sebenarnya sudah lama Jojo tertarik pada Any, sejak keduanya dipertemukan dalam satu kelas di awal masuk SMA. Saat itu Jojo iseng, membuat origami dari kertas bekas ulangan. Dibentuknya sebuah bunga dari kertas tadi, lalu Jojo menghampiri bangku Any yang terletak dibelakang.
Kata Jojo “Any, aku punya sesuatu untukmu”,
jawab Any penasaran “Apa???”,
“Ini aku punya sekuntum bunga dari kertas, yang kubuat sendiri”,
Any pun tersenyum melihat Jojo. Jojo pun meletakkan bunga tadi dibangku Any. Jojo akhirnya bermimpi suatu saat nanti ingin menjadi kekasihnya Any. Dalam lamunannya Jojo dikejutkan oleh Andy dari belakang,
“Hayo.. ngapain tuhh??” kata Andy yang membubarkan bayangan Jojo tentang Any.
“Waah, kamu…” jawab Jojo setengah marah.
“Hhhahaha” Andy ketawa keras.
“Ayo’ ke kantin..” ajak Andy, merekapun bergegas ke kantin untuk membeli makanan.
Hari demi hari Jojo dan Any semakin dekat. Keduanya saling membantu satusama lain. Saat Any butuh bantuan Jojo siap untuk membantunya, begitu juga sebaliknya.
Suatu saat ada tugas fisika, Jojo yang sedikit kurang bisa dengan pelajaran fisika memilih meminta bantuan kepada Any yang pintar dalam pelajaran fisika.
“Any, fisika-nya gimana??” Tanya Jojo.
“Ya gitu, di contoh sudah ada” jawab Any.
“Bisakah kau mengajariku??” Tanya Jojo kembali.
“Yaa, kesinio” jawan Any.
Dengan setengah gugup Jojo duduk disebelah Any. Dengan jelas Any menjelaskan rumus-rumus fisika kepada Jojo. Dengan setengah mengerti Jojo menganggukkan kepala.
“Ya Any, cukup membingungkan” respon Jojo sambil ketawa menghibur Any.
“Hhaha, yaudah, ini punyaku di copy-paste aja,..” jawab Any.
“Okke,..” senyum Jojo.
Jojo langsung menyalin tugas fisikanya Any. Dan dikembalikannya kertas tugas milik Any.
Di bangku blok deretan timur, Jojo merasa kesepian. Dia iseng mengirim pesan ke Any yang berada di bangku blok barat.
“Sepi,..” pesan Jojo ke Any.
“Orang rame kaya gini kok..” balas Any.
“Hatiku yang sepi,..” jawab Jojo dengan humor.
“Ahh, bisa aja” Any sedikit tersenyum.
Dan saat itu mereka mulai bercanda melalui pesan pendek.
Saat istirahat yang kedua, Jojo kembali mengirim pesan ke Any,
“Ayo absen,..” ajak Jojo untuk sholat berjamah di mushola.
Lama Jojo menunggu Any di mushola, akhirnya Jojo sholat berjamaah sendiri. Setelah selesai sholat Dzuhur, ponsel Jojo bergetar, pertanda ada pesan masuk. Dibukanya pesan tadi, ternyata Any tak mengerti apa maksud dari pesan Jojo kepadanya,
“Absen apa??” Tanya Any bingung.
“Sholat Dzuhur,..” jawab Jojo.
“Belum aku..” balas Any.
Tugas fisika tadi pagi harus dikumpulkan di meja Pak Bagus pulang sekolah. Dengan bingung Any meminta bantuan kepada Jojo, karena lembarannya Any tertinggal.
“Jojo, gimana nih fisikaku” kata Any.
“Fisikannya ditumpuk dimeja pak Bagus” jawab Jojo.
“Aq nitip ya, please” Any memohon.
“Iya,..” kata Jojo.
“Alhamdulillah” Any bersyukur.
Karena kedekatan Jojo dengan Any, teman-teman Any pun merasa kalau Jojo mempunyai sebuah rasa untuk Any.
Pada suatu hari, tepatnya hari kamis waktu jam terakhir pelajaran Toefl. Ponsel Jojo bergetar. Setelah pelajaran selesai Jojo langsung membuka pesan masuk ponselnya. Tertera dalam layar ada 2 pesan masuk dari Any.
“Cinta” itulah tulisan dibalik kedua pesan dari Any. Jojo terdiam, ia sangat kaget, hatinya berdebar semakin kencang, ia langsung terdiam. Jojo sangat bingung, dia kira Any merespon tentang kedekatannya. Dalam hati Jojo bertanya-tanya, dia tak percaya. Karena bingung, Jojo memberitahu pesan tadi kepada Adul, teman sebangkunya. Adul pun juga ikut kaget melihat pesan dari Any.
“Wahh, Jo, kamu hebat, bisa buat dia mengatakan ini” kata Adul kepada Jojo.
“Aku juga nggak percaya,..” jawab Jojo.
“Udah Jo, sikat aja!!” saran Adul.
“Aku belum begitu siap Dul, do’akan aku,..” ragu jawab Jojo.
“Tenang Jo, kamu pasti bisa” tegas Adul.
Tak lama, setelah pulang sekolah, Jojo menanyakan ke Any tentang pesannya tadi. Ternyata Any juga bingung. Dia merasa tidak mengirim pesan apapun ke Jojo. Hati Jojo yang berdebar senang, kini berubah menjadi takut dan tambah bingung.
“Kamu tadi Tanya tentang apa Jojo?” Tanya Any dalam Pesan.
“Pesanmu tadi, yang kamu kirim ke aku?” Jawab Jojo berharap.
“Aku tadi nggak ngirim pesan ke kamu, sumpah..” Jawab Any bingung.
“Coba deh, di cek di pesan terkirim” Jojo penasaran.
“Nggak ada Jo, emang itu pesan kapan?” Tanya Any.
Karena keduanya sama-sama bingung, Jojo pun meminta Any untuk menemuinya.
“Any, aku sekarang di parkiran” pesan Jojo.
“Parkiran mana?” balas Any.
“Depan” kata Jojo.
“Coba kamu kelapangan basket sekarang” Ajak Any.
Jojo yang berad di parkiran depan langsung bergega ke lapangan basket yang berada di belakang.
Mereka saling bertemu dan bertatap muka satu sama lain tepat berada di bawah ring basket. Jojolangsung memberitahu Any tentang pesannya tadi.
“Any” sapa Jojo menatap mata Any.
“Apa maksud pesan ini??” Tanya Jojo sambil membuka ponselnya.
Any terkejut melihat pesan tadi. Dia hanya tersenyum melihatnya.
“Oou, ini bukan aku yang mengirim” jawab Any santai.
Hati Jojo langsung terdiam berhenti berdebar.
“Mungkin Gita yang mengirim pesan ini” Tambah Any.
Jojo semakin bingung, ternyata ini hanya salah paham.
“Ouh, yaudah..” jawab Jojo kecewa.
Keduanya saling terdiam, saling menatap mata. Dan akhirnya, Jojo memberanikan diri, mengungkapkan seluruh isi hatinya, dihadapannya langsung.
“Any, Aku saying kamu” Kata Jojo tegas.
Kaget Any mendengar kata-kata yang keluar dari ulut Jojo yang terdengar tulus. Any tersenyum,
“Lha kamu lho kok bisa saying sama aku?” jawab Any dengan senyum manisnya. “Cinta Itu Apa Adanya, Bukan Ada Apanya” Sahut Jojo menegaskan keseriusannya dengan Any.
Any semakin percaya dengan Jojo, tetapi
“Aku nggak bisa jawab sekarang, aku masih ingin mengenalmu lebih jauh. Kata ortu-ku supaya jangan cepat mengambil keputusan” kata Any dengan bijak.
Jojo menundukkan kepalanya. Lega bercampur cemas. Lega karena ia telah berani mengungkapkan perasaannya, dan cemas karena ia harus menunggu keputusan dari Any.
“Oke Any, aku akan setia menunggu jawaban dari kamu” kata Jojo.
Dan tepat pukul 14:08 mereka berpisah dari tempat itu. Any yang ditunggu temannya dari tadi, ia langsung pulang. Sedangkan Jojo menghampiri kawan-kawannya yang menunggu di kantin ketika Jojo menyatakan cinta kepada Any. Dengan harap-harap cemas mereka menyambut Jojo,
“Gimana Jo??” Tanya Herman.
”Dia belum bisa jawab sekarang” jawab Jojo sambil duduk disebelah Firman.
“Semangat Jo, kamu pasti bisa mendapatkan Any” kata Firman menghibur Jojo.
Lalu Jojo menyahutnya,
“Semoga, Amin,..”.



Karangan: Ahmad Ammar Muzakky
Terinspirasi dari seorang teman sekelas saat pertama masuk SMA.