Sabtu, 30 November 2013

Cerpen Sahabat



TAKKAN PERNAH ADA UNGKAPAN “MANTAN SAHABAT”


Namaku Ahmad Ammar Muzakky, atau biasa dipanggil Jeck oleh temen-temenku. Ini adalah cerita tentang sahabat-sahabatku yang aku temukan semenjak masuk SMA Kertosono. Kisah persahabatanku dimulai semenjak aku masuk di kelas X. Tepatnya kelas X-7, jujur saat aku pertama masuk di kelas itu aku nggak punya teman. Tapi aku masih ingat, waktu itu ada seorang anak yang berasal dari Madrasah Tsanawiyah yang juga tergabung bersamaku di kelas ini.
“Ahmad Ammar, kan?” sambil tersenyum dia menjabat tanganku.
“Iya,..!” Sambil tersenyum dengan banyak pertanyaan di otakku aku membalas jabat tangannya.
Itulah sahabatku yang pertama, namanya Abdul Aziz, atau biasa ku panggil “Dul”. Hari-hari aku melalui dikelas X bersama Dul, meski kami selalu bersama tapi pertemanan kami belum menjurus ke Persahabatan.
Sampai suatu hari aku pulang sekolah. Seperti biasa aku pulang naik angkot, aku selalu menunggu angkot di warung sebelah timur sekolah. Dan suatu ketika ada anak yang juga naik angkot. Aku sempat melihat-lihat, aku perhatikan Seragam yang dia kenakan kok mirip seragam yang Dul pakai saat pertama bertemu.
“Hey,..” itu perkataan pertamanya padaku yang masih ku ingat. Dia memulai pembicaraan.
“Iya,.” Jawabku menanggapi sapaannya.
“Kamu kelas X apa?” tanyanya padaku.
“X-7, kalau kamu?”
“Aku X-4. Loh, kamu sekelas sama Abdul Aziz ya,.?
“Eh iya, dia temen sebangku ku!”
Percakapan kami pun masih berlangsung meski kami belum saling kenal. Sepanjang perjalanan  kami membicarakan tentang si Dul, dia bercerita kalau Dul dulu seorang Playboy di masa SMP nya. Sampai aku sudah sampai dirumahku.
“eh iya, nama kamu siapa?” tanya ku padanya.
“Firman, kalau kamu?” Jawabnya sambil menjabat tanagnku.
“Namaku Ahmad Ammar Muzakky, eh Fir aku turun dulu ya, sampai jumpa besok.” Aku turun dari angkot dan kami pun berpisah.
Sampai suatu hari kami bertiga dipertemukan dalam sebuah ekstra Kerohanian Islam. Hari ini hari Jum’at, aku sholat jum’at berjamaah disekolah. Setelah bel pulang sekolah berbunyi pukul 11:15,  Dul mengajakku untuk langsung pergi ke Mushola.
“Jeck, ayok ke Mushola” Ajak Dul.
“Ayok, sebentar tak beresin buku dulu”
Sementara kami berjalan menuju ke Mushola, seorang anak dari belakang mengikuti kita. Setelah kami menoleh ternyata Firman yang sedari tadi mengikuti kami dari belakang. Kami pun semakin berbaur.
“Jhon,.!” Panggil firman dari belakang.
Aku pun bingung, diantara kami berdua tidak ada yang bernama jhon, tetapi Dul menoleh dengan tenangnya.
“eh, The Man,.” Balas Dul. Aku semakin bingung dengan nama-nama ini.
“loh kamu Ammar kan? Yang bertemu di angkot” sapa Firman.
“eh iya, Man” aku ikut-ikut Dul memanggil dengan panggilan akrabnya.
“Kalian mau kemana? Tanya Firman.
“ke Mushola Man, udah Adzan nih” jawab Dul.
“Ayok buruan,.!”
Kami bertiga pun segera bergegas ke Mushola dan menjalankan Sholat Jum’at. Setelah selesai sholat jum’at kami bertiga kumpul di mushola untuk ekstra SKI. Seperti biasa ada kajian.
Hari-hari pun kami lalui bersama, sholat dzuhur, ke kantin, nongkrong di tempat parkir, ngobrol di warung kopi. Dan suatu hari kami berkumpul di bawah pohon di dekat pos satpam, kami mulai bicara dari hati ke hati. Dan kami mulai membentuk persahabatan kami. Ada Abdul atau Dul, dia paling pintar ngomongin soal Wanita. Maklum dulu seorang idola di SMP nya. Ada Firman atau Man, yang pintar ngomongi soal Agama dan Pengalaman Hidup. Dan Aku, aku tak tahu pintar ngomongin apa, tapi aku selalu bisa membantu mereka kalau mereka ada masalah, sedikit banyak aku selalu memberi saran kepada mereka.
Inilah persahabatan kami, kami punya kelebihan dan kekurangan, dan jika kami selalu bersama akan menjadi Persahabatan yang paling kompak. Dul dan Man, mereka dulu teman sekelas waktu di SMP. Man dan Aku, adalah teman pulang sekolah saat naik angkot. Dul dan Aku, adalah teman sekelas. Lengkap sekali rasanya persahabatan kami.
“Aku ingin persahabatan ini berlangsung samapi kita mati,.!” Man mengawali pembicaraan.
“Iya Man, sampai tua sampai kakek-kakek,.!” Dul sedikit menambah pembicaraan Man.
Tinggal aku sendiri yang masih terdiam, mendengar kata-kata mereka Otak ku langsung berfikir.
“Begini aja Bro, kita bikin perjanjian, kita bikin persahabatan. Yang akan mengikat hubungan Pertemanan kita. Tidak ada kata Mantan Sahabat diantara kita suatu saat nanti. “
“Oke, kita beri nama apa persahabatan kita ini,.?” Tanya Dul.
“Karena kita hobi jalan-jalan ke tempat yang belum pernah kita datangi, aku beri nama PERJALANAN TIGA BATU NISAN. Jadi intinya kita akan selalu bersama, melakukan perjalan hidup dengan bersama, sampai menjadi batu nisan.” Sahut Man.
“Begini, Persahabatan ini tidak bisa bisa ditambah anggotanya atau dikurangi. Kita adalah satu kesatuan yang sulit untuk dipisahkan satu sama lain.” Tambah Dul.
“Oke deal, Bismillah ya Allah,.” Aku menaggapi sembari berdoa untuk persahabatan ini.
Waktu terus berjalan, kami selalu bersama kemanapun kami ingin berjalan. Makna dari nama persahabatan kami tidak menutup kemungkinan untuk anak lain yang ingin berteman bersama kami. Kami sangat Fleksibel menerima sebuah pertemanan.
Hingga kami naik kelas XI, kami mengurangi waktu untuk jalan-jalan atau sekedar nongkrong di warung kopi. Kami akan serius untuk kelas XI ini, karena kami sudah masuk penjurusan. Man masuk di kelas XI-IPS 1, Dul XI-IPS 3, sedangkan aku di kelas XI-IPS 4. Kami hanya berkumpul jika ada acara ekstra atau biasanya setelah selesai sholat jum’at seperti biasa kami selalu ngobrol di warung kopi.
Cuma hanya sekedar curhat tentang wanita, tentang pelajaran, sampai tentang Agama. Kami selalu memberi pendapat masing-masing dan selalu menarik kesimpulan dari pembicaraan kita. Jadi nongkrongnya kami di warung kopi bukan hanya sekedar makan dan minum, kami juga berdiskusi membahas persoalan yang sedang terjadi.
Suatu hari.
“Man kemana ya kok nggak tau ketemu,.?” Tanya Dul.
“Nggak tau tuh, katanya ikut Kompetisi Dance antar sekolah,.!” Jawabku seadanya.
“Yaah, sepi rasanya tinggal berdua,.” Balas Dul
Suatu waktu.
            “Kemana ya Man dan Dul,..?” aku bertanya pada diriku sendiri.
O iya, mereka pada sibuk sama kegiatannya masing-masing, begitu juga aku. Hingga sampai diujung kelas XII ini persahabatan kami masih tetap berjalan meski kita jarang bertemu. Tetapi aku yakin didalam hati mereka masih ada ‘Batu Nisan’ yang aku dan mereka buat dulu.

Cerpen Karangan: Ahmad Ammar muzakky
            Cerita tersebut tidak aku titik beratkan pada sahabat ku yang aku tulis saja didalam cerita. Cerita ini aku titik beratkan pada sahabat-sahabatku semua. Sahabat adalah keluarga yang aku pilih sendiri, tidak ada hubungan kerabat diantara kita. Tetapi Kepecayaan dan komunikasi yang menjiwai persahabatan itu sendiri. Salam untuk sahabat-sahabatku semua.” @AhAmMu.

                                                                                      

Tidak ada komentar:

Posting Komentar