TAKKAN
PERNAH ADA UNGKAPAN “MANTAN SAHABAT”
Namaku Ahmad Ammar Muzakky, atau biasa dipanggil Jeck oleh
temen-temenku. Ini adalah cerita tentang sahabat-sahabatku yang aku temukan
semenjak masuk SMA Kertosono. Kisah persahabatanku dimulai semenjak aku masuk
di kelas X. Tepatnya kelas X-7, jujur saat aku pertama masuk di kelas itu aku
nggak punya teman. Tapi aku masih ingat, waktu itu ada seorang anak yang
berasal dari Madrasah Tsanawiyah yang juga tergabung bersamaku di kelas ini.
“Ahmad Ammar, kan?” sambil tersenyum
dia menjabat tanganku.
“Iya,..!” Sambil tersenyum dengan
banyak pertanyaan di otakku aku membalas jabat tangannya.
Itulah sahabatku yang pertama, namanya Abdul Aziz, atau
biasa ku panggil “Dul”. Hari-hari aku melalui dikelas X bersama Dul, meski kami
selalu bersama tapi pertemanan kami belum menjurus ke Persahabatan.
Sampai suatu hari aku pulang sekolah. Seperti biasa aku
pulang naik angkot, aku selalu menunggu angkot di warung sebelah timur sekolah.
Dan suatu ketika ada anak yang juga naik angkot. Aku sempat melihat-lihat, aku
perhatikan Seragam yang dia kenakan kok mirip seragam yang Dul pakai saat
pertama bertemu.
“Hey,..” itu perkataan pertamanya
padaku yang masih ku ingat. Dia memulai pembicaraan.
“Iya,.” Jawabku menanggapi sapaannya.
“Kamu kelas X apa?” tanyanya padaku.
“X-7, kalau kamu?”
“Aku X-4. Loh, kamu sekelas sama Abdul
Aziz ya,.?
“Eh iya, dia temen sebangku ku!”
Percakapan kami pun masih berlangsung meski kami belum saling
kenal. Sepanjang perjalanan kami
membicarakan tentang si Dul, dia bercerita kalau Dul dulu seorang Playboy di
masa SMP nya. Sampai aku sudah sampai dirumahku.
“eh iya, nama kamu siapa?” tanya ku
padanya.
“Firman, kalau kamu?” Jawabnya sambil
menjabat tanagnku.
“Namaku Ahmad Ammar Muzakky, eh Fir aku
turun dulu ya, sampai jumpa besok.” Aku turun dari angkot dan kami pun
berpisah.
Sampai suatu hari kami bertiga dipertemukan dalam sebuah
ekstra Kerohanian Islam. Hari ini hari Jum’at, aku sholat jum’at berjamaah
disekolah. Setelah bel pulang sekolah berbunyi pukul 11:15, Dul mengajakku untuk langsung pergi ke
Mushola.
“Jeck, ayok ke Mushola” Ajak Dul.
“Ayok, sebentar tak beresin buku dulu”
Sementara kami berjalan menuju ke Mushola, seorang anak dari
belakang mengikuti kita. Setelah kami menoleh ternyata Firman yang sedari tadi
mengikuti kami dari belakang. Kami pun semakin berbaur.
“Jhon,.!” Panggil firman dari belakang.
Aku pun bingung, diantara kami berdua tidak ada yang bernama
jhon, tetapi Dul menoleh dengan tenangnya.
“eh, The Man,.” Balas Dul. Aku semakin
bingung dengan nama-nama ini.
“loh kamu Ammar kan? Yang bertemu di
angkot” sapa Firman.
“eh iya, Man” aku ikut-ikut Dul
memanggil dengan panggilan akrabnya.
“Kalian mau kemana? Tanya Firman.
“ke Mushola Man, udah Adzan nih” jawab
Dul.
“Ayok buruan,.!”
Kami bertiga pun segera bergegas ke Mushola dan menjalankan
Sholat Jum’at. Setelah selesai sholat jum’at kami bertiga kumpul di mushola
untuk ekstra SKI. Seperti biasa ada kajian.
Hari-hari pun kami lalui bersama, sholat dzuhur, ke kantin,
nongkrong di tempat parkir, ngobrol di warung kopi. Dan suatu hari kami
berkumpul di bawah pohon di dekat pos satpam, kami mulai bicara dari hati ke
hati. Dan kami mulai membentuk persahabatan kami. Ada Abdul atau Dul, dia
paling pintar ngomongin soal Wanita. Maklum dulu seorang idola di SMP nya. Ada
Firman atau Man, yang pintar ngomongi soal Agama dan Pengalaman Hidup. Dan Aku,
aku tak tahu pintar ngomongin apa, tapi aku selalu bisa membantu mereka kalau
mereka ada masalah, sedikit banyak aku selalu memberi saran kepada mereka.
Inilah persahabatan kami, kami punya kelebihan dan
kekurangan, dan jika kami selalu bersama akan menjadi Persahabatan yang paling
kompak. Dul dan Man, mereka dulu teman sekelas waktu di SMP. Man dan Aku,
adalah teman pulang sekolah saat naik angkot. Dul dan Aku, adalah teman
sekelas. Lengkap sekali rasanya persahabatan kami.
“Aku ingin persahabatan ini berlangsung
samapi kita mati,.!” Man mengawali pembicaraan.
“Iya Man, sampai tua sampai kakek-kakek,.!”
Dul sedikit menambah pembicaraan Man.
Tinggal aku sendiri yang masih terdiam, mendengar kata-kata
mereka Otak ku langsung berfikir.
“Begini aja Bro, kita bikin perjanjian,
kita bikin persahabatan. Yang akan mengikat hubungan Pertemanan kita. Tidak ada
kata Mantan Sahabat diantara kita suatu saat nanti. “
“Oke, kita beri nama apa persahabatan
kita ini,.?” Tanya Dul.
“Karena kita hobi jalan-jalan ke tempat
yang belum pernah kita datangi, aku beri nama PERJALANAN TIGA BATU NISAN. Jadi
intinya kita akan selalu bersama, melakukan perjalan hidup dengan bersama,
sampai menjadi batu nisan.” Sahut Man.
“Begini, Persahabatan ini tidak bisa
bisa ditambah anggotanya atau dikurangi. Kita adalah satu kesatuan yang sulit
untuk dipisahkan satu sama lain.” Tambah Dul.
“Oke deal, Bismillah ya Allah,.” Aku
menaggapi sembari berdoa untuk persahabatan ini.
Waktu terus berjalan, kami selalu bersama kemanapun kami
ingin berjalan. Makna dari nama persahabatan kami tidak menutup kemungkinan
untuk anak lain yang ingin berteman bersama kami. Kami sangat Fleksibel
menerima sebuah pertemanan.
Hingga kami naik kelas XI, kami mengurangi waktu untuk
jalan-jalan atau sekedar nongkrong di warung kopi. Kami akan serius untuk kelas
XI ini, karena kami sudah masuk penjurusan. Man masuk di kelas XI-IPS 1, Dul
XI-IPS 3, sedangkan aku di kelas XI-IPS 4. Kami hanya berkumpul jika ada acara
ekstra atau biasanya setelah selesai sholat jum’at seperti biasa kami selalu
ngobrol di warung kopi.
Cuma hanya sekedar curhat tentang wanita, tentang pelajaran,
sampai tentang Agama. Kami selalu memberi pendapat masing-masing dan selalu
menarik kesimpulan dari pembicaraan kita. Jadi nongkrongnya kami di warung kopi
bukan hanya sekedar makan dan minum, kami juga berdiskusi membahas persoalan
yang sedang terjadi.
Suatu hari.
“Man kemana ya kok nggak tau ketemu,.?”
Tanya Dul.
“Nggak tau tuh, katanya ikut Kompetisi
Dance antar sekolah,.!” Jawabku seadanya.
“Yaah, sepi rasanya tinggal berdua,.”
Balas Dul
Suatu waktu.
“Kemana ya
Man dan Dul,..?” aku bertanya pada diriku sendiri.
O iya, mereka pada sibuk sama kegiatannya masing-masing,
begitu juga aku. Hingga sampai diujung kelas XII ini persahabatan kami masih
tetap berjalan meski kita jarang bertemu. Tetapi aku yakin didalam hati mereka
masih ada ‘Batu Nisan’ yang aku dan mereka buat dulu.
Cerpen Karangan: Ahmad Ammar muzakky
“Cerita tersebut tidak aku titik beratkan
pada sahabat ku yang aku tulis saja didalam cerita. Cerita ini aku titik
beratkan pada sahabat-sahabatku semua. Sahabat adalah keluarga yang aku pilih
sendiri, tidak ada hubungan kerabat diantara kita. Tetapi Kepecayaan dan
komunikasi yang menjiwai persahabatan itu sendiri. Salam untuk
sahabat-sahabatku semua.” @AhAmMu.
